Esai ini berisi tentang penempatan perempuan dan terutama pekerjaan yang mereka lakukan dalam masyarakat oleh Maxis dan Freudian.
Marxis menyebutkan bahwa wanita adalah penggunaan, pertukaran, nilai lebih dari produk pekerjaan, melahirkan dan membesarkan arah.
Freud menyebutkan wanita berkaitan dengan seksualitas dan ekspresi perempuan.
Isi esai ini dibagi menjadi empat:
1. Ceramah tahun lalu
2. refelksi dari pekerjaan sebelumnya
3. momen perantara
4. Mendiami sesuatu seperti saat ini.
Urgensi Marx di antaranya:
- ada pekerjaan wanita yang tak dibayar untuk suami/keluarga
- perempuan itu adalah agen teori produksi (rahim)
- eksterenalisasi keterasingan yaitu perempuan itu melahirkan, pengasuh, dan menghasilkan anak.
- Lak-laki bmemiliki hak kepemilikan yang sah atas produk tubuh perempuan
Urgensi Freud di antaranya:
- Ada rasa sakit bagi perempuan yang dibayangkan, diantisipasi dan dihindari
- Rahim adalah tempat produksi yang nyata
- Nyeri perempuan vs. laki-laki berbeda
- Teori itu berisi kecemburuan pada penis
Selain itu, dijelaskan juga perjuangan wanita dunia ketiga:
- Di Seoul, 1982, Maret, ada 237 pekerja wanita di pabrik mengajukan tuntutan untuk kenaikan upah
- Laki-laki memukuli wanita-wanita pabrik tersebut. Wanita tidak diperlakukan dengan baik.
Jika dibandingkan dengan materi sebelumnya, yakni bahasa dan gender, ada kaitannya, yakni penempatan wanita yang selalu dioposisikan dengan lelaki.
- Mojang dibandingkan dengan jajaka
- Pamajikan dibandingkan dengan Lalaki
- Wanita dibandingkan dengan pria
Selain itu, ada juga Geureuha, yakni istri sebagai pemenuh kebutuhan reproduksi. Hal ini sama dengan pandangan seperti Marx bahwa perempuan adalah tempat produksi dan Freud yang melihat perempuan dilihat dari sex saja.
Selain itu, dari bacaan ini saya menyimpulkan juga bahwa perempuan itu dimarjinalkan. Saya tertarik dengan pembahasan ini. Karena saya menemukan juga di berita tahun 2020, bahwa pada Pabrik Alpen Foon (Aice) yakni ada buruh yang mengeluh kesakitan karena memiliki riwayat endometriosis, sehingga tidak bisa melakukan pekerjaan kasar dan berat. Tetapi, perusahaan mengancam, sehingga ia mengalami pendarahan. Selain itu, ada 15 kasus keguguran. Banyak stigma yang mengatakan bahwa tenaga perempuan itu lemah, jadi belum setara dengan laki-laki.
Pertanyaan saya, apakah dari pembahasan ini, topik penelitian dari sudut pandang apa yang bisa digunakan?
Kemudian, saya masih belum paham makna dekontruksi dalam konteks ini, karena kalau dilihat secara leksikal, maknanya penataan ulang. Saya belum paham, apa yang ditata ulang, kenapa ditata ulang?
Terima kasih