Tanggapan dan pertanyaan saya setelah membaca artikel yang ditulis oleh Spivac:
Spivac membahas tentang bagaimana marxisme, psikoanalisis, dan dekonstruksi dalam pandangan feminisme. Saya sangat tertarik dengan bagaimana Spivac membahas setiap tulisan teoritis yang ada seperti tulisan teoritis Marx, Freud, Derrida, dan Drabble yang kemudian dikaji kembali dengan lebih luas berdasarkan sudut pandang feminisme.
Dalam artikelnya, Spivac juga menjelaskan baik dalam masyarakat matrilineal maupun patrilineal, fakta tentang kepemilikan sah atas anak tidak dapat dicabut dari hak milik laki-laki. Disini saya jadi teringat dengan apa yang sudah disampaikan oleh Bapak tentang anak yang dilahirkan susah payah oleh perempuan pada akhirnya ketika lahir dinamai dengan milik laki-laki. Sebagai contoh jika di Korea atau di Bali, anak akan mengikuti marga dari ayahnya. Hal ini membuat saya jadi berpikir apa yang menyebabkan itu terjadi? Apakah karena ada hukumnya atau karena sudah menjadi budaya?
Kemudian saya jadi teringat, dalam kasus ini tidak hanya anak yang menjadi hak milik laki-laki, tetapi perempuan ketika menikah pun ada yang harus mengubah marganya mengikuti marga suami seperti di Korea. Mengapa demikian?
Pertanyaan tentang translate artikel Spivac:
- Pada bagian akhir bagian 4, terdapat kalimat “I teach a small number of the holders of the can(n)on, male or female, feminist or masculist, how to read their own text, as best as I can”. Apa yang dimaksud dengan “can(n)on”?
- Pada bagian 3, terdapat kalimat “I will quote two, to show how provisional and self-suspending Jane can be”. Apa yang dimaksud dengan “provisional and self-suspending”? Apakah maksudnya “pemikiran yang sempit dan suka menunda-nunda” atau “kuat dan independen”?