SEMINAR NASIONAL MANACITA 2022 "PANDANGAN GEOSAINTIS TERHADAP KESIAPAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR DAN ANALISIS KEBENCANAAN GEOLOGI DI IBU KOTA NEGARA"
Dari seminar nasional manacita 2022 dengan dua pembicara yang membahas tentang IKN dalam aspek geologi khususnya kebencanaan ini, dapat dikaitkan dengan pengantar desain dan rekayasa melalui konsep need, now, how, and solve sebagai berikut:
NEED
Ibu Kota Negara Baru menjadi tempat yang aman, sejahtera, terhindar dari berbagai macam bencana atau hal lain dalam aspek geologi.
NOW
Alasan pindah ke Kalimantan:
- Lokasi Strategis dari wilayah tengah Indonesia
- Lokasi Bebas Gempa dan Tsunami
- Struktur di Kalimantan yang cenderung stabil
- Ketersediaan lahan milik negara sehingga pembangunan lebih murah
- Kemiringan lahan dan daya dukung tanah yang relatif landai namun
- Ketersediaan sumber daya air yang melimpah namun air tanah
- Lokasi bebas banjir, kebakaran hutan dan lahan
- Dekat dengan kota yang sudah ada dan berkembang
- Daya dukung sosial budaya, terutama keterbukaan untuk pendatang
- Geomorfologi calon wilayah inti Ibu Kota Negara (IKN) tersusun oleh bentuklahan punggungan, lereng dan lembah.
- Batuan penyusun calon wilayah inti terdiri dari Formasi Pamaluan (Omp), Formasi Bebulu (Nmbl), Formasi Pulaubalang (Nmpb) dan Endapan Aluvial (Qa).
- Struktur geologi yang ada di daerah IKN adalah lipatan dan sesar dengan arah umum timurlaut – baratdaya, Sesar naik di bagian baratlaut, dicirikan oleh pola anomali gayaberat residual bergradien relatif tinggi.
- Calon wilayah inti tersusun atas batulempung bersisipan batupasir.
- Perencanaan penataan kawasan ibukota memerlukan perhatian tertentu dalam hal keberadaan muka air tanah dan potensi air tanah yang terbatas untuk mendukung ketersediaan sumber air bersih.
- Pengamatan lapangan memperlihatkan proses infiltrasi air hujan ke dalam tanah umumnya rendah.
- Calon wilayah inti termasuk dalam kategori gerakan tanah rendah. Namun, atas perlapisan batulempung dan batupasir ini berpotensi menjadi bidang gelincir longsoran bila mengalami jenuh air.
- Kerentanan erosi yang ada umumnya dipengaruhi oleh faktor alami seperti kemiringan dan panjang lereng, curah hujan, kondisi struktur geologi serta kedalaman tanah, tetapi perubahan fungsi lahan dapat merubah klasifikasi kerentanan erosi.
- Kawasan rawan bencana gempa bumi rendah, berpotensi terlanda guncangan gempa bumi dengan skala intensitas sekitar V - VII MMI. Survei seismotektonik menunjukkan bahwa daerah ini termasuk dalam zona potensi bencana gempa bumi rendah – sedang, tetapi pada daerah baratlaut berada pada zona potensi bencana gempa bumi tinggi.
- Struktur geologi yang dijumpaiberdasarkan seismotektonik dan mikrozonasi adalah 3 segmen Patahan naik aktif dan normal aktif Tembinus. Usaha mitigasi yang dapat dilakukan antara lain membuat kajian sepadan gawir dan lembah.
- Sebaran unit batuan yang kemungkinan mengandung gas dijumpai di daerah Kecamatan Sepaku. Apabila pada suatu saat beban di permukaan bertambah dengan bertambahnya bangunan, dikhawatirkan terjadi keretakan yang dapat menyebabkan munculnya gas bertekanan tinggi ke permukaan dengan tekanan yang tinggi.
- Sebaran potensi swabakar batubara di calon wilayah inti tergolong dalam zona low risk, sedangkan zona high risk berada di sebelah timur dan utara wilayah inti.
Karakteristik kesesuaian lahan calon wilayah inti berdasarkan aspek geologi termasuk dalam kesesuaian lahan sedang hingga rendah. Pembangunan perkotaan di daerah ini memerlukan biaya sedang hingga tinggi karena kebutuhan air sulit terpenuhi, morfologi landai hingga terjal dan kondisi keterdapatan batulempung yang bersifat kembang susut. Pembangunan infrastruktur dan fasilitas agar memperhatikan kategori resiko sesuai SNI 1726:2012.
Perlu adanya mitigasi bencana di IKN dan persiapannya berdadarkan penelitian yang telah dilakukan. Misalnya pengamatan lapangan memperlihatkan proses infiltrasi air hujan ke dalam tanah umumnya rendah sehingga diperlukan penataan penyaluran air larian permukaan (runoff drainage) untuk mengatasi ancaman banjir. Potensi air tanah yang nantinya berkemungkinan susah air atau kekeringan sehingga harus dipersiapkan keberadaan airnya, dapat dengan merekayasa adanya air tanah rekayasa atau air permukaan tampungan.
Mitigasi Bencana di IKN Nusantara berdasarkan Kondisi Geologi
1. Kesesuaian lahan sedang
Resiko pembangunannya, morfologi landai-terjal bergelombang
Mitigasi:
- Cut & fill
- Untuk mengendalikan banjir pada bagian lembah agar
difungsikan sebagai tempat penampungan aliran air
permukaan
- Pembangunan pada bagian perbukitan harus
memperhatikan BCR
Waktu pelaksanaan mitigasi
- Kontruksi
- Pasca operasional
- Konstruksi
Resiko lainnya yaitu, ketersediaan air tanah sangat rendah-langka
Mitigaso
- Mencari alternatif dan mengelola sumber air
permukaan
- Membuat bendungan/waduk
Waktu mitigasi, konstruksi dan pasca operasional
2. Pemanfaatan air tanah berlebihan
Resiko pembangunan:
-Penurunan muka air tanah
-Release gas methane akibat kontak dengan batubara
Mitigasi:
- Pemasangan jaringan sumur pantau
- Monitoring kedudukan MAT dan kandungan gas methane
Waktu pelaksanaan mitigasi:
- Pasca operasional
- Pasca operasional
3. Daya dukung tanah/batuan
Resiko pembangunan:
Daya dukung pendasi sedang, dikarenakan adanya batulempung yang terdapat pada daerah tersebut diperkirakan memiliki sifat kembang susut yang cukup tinggi dan gerakan tanah
Mitigasi:
- Solusi untuk daya dukung tanah yang sedang pada batulempung agar dilakukan rekayasa teknis pada tanah dan bangunan infrastruktur untuk mengendalikan karaktetistik batulempung yg bersifat kembang susut dan gerakan tanah rayapan
Waktu pelaksanaan mitigasi
- Konstruksi
- Pasca operasional
4. Batubara
Resiko pembangunannya yaitu asap kendaraan
Mitigasi:
- Untuk Batubara yang sudah terbuka dilakukan monitoring secara berkala dan disediakan alat pemadam kebakaran. - Untuk batubara yang belum terbuka agar dimonitoring.
Waktu pelaksanaan mitigasi, pasca operasional
5. Rawa
Resiko pembangunan, menjadi daerah genangan atau banjir
Mitigasi:
- Monitoring
- Direkayasa untuk dijadikan tempat penampungan air permukaan (pond)
Waktu pelaksanaan mitigasi, pasca operasional
6. Gempa bumi
Resiko pembangunan, gangguan stabilitas tanah dan infrastruktur bangunan dan jalan/jembatan
Mitigasi:
- Perlu adanya kajian mikrozonasi
- Penerangan building code/ kode bangunan tahan gempa
- Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat
Waktu pelaksanaan mitigasi:
- Konstruksi
- Pasca operasional
RESUME SEMINAR
Pembicara 1: Edi Hidayat, ST., MT.POTENSI KEBENCANAAN GEOLOGI DI CALON IBUKOTA NEGARA (IKN)
Di Jakarta keadaannya sudah tidak memungkinkan dan tidak pantas lagi. Sering terjadi bencana Banjir, kemacetan di mana-mana, kepadatan penduduk, dan dataran pulau jawa yang semakin menurun. Lokasi Pemilihan Ibu Kota Negara terbagi kedalam 3 kriteria : kawasan inti pusat pemerintahan , kawasan IKN, Kawasan Perluasan IKN. Alasan pindah ke Kalimantan:
- Lokasi Strategis dari wilayah tengah Indonesia
- Lokasi Bebas Gempa dan Tsunami
- Struktur di Kalimantan yang cenderung stabil
- Ketersediaan lahan milik negara sehingga pembangunan lebih murah
- Kemiringan lahan dan daya dukung tanah yang relatif landai namun
- Ketersediaan sumber daya air yang melimpah namun air tanah
- Lokasi bebas banjir, kebakaran hutan dan lahan
- Dekat dengan kota yang sudah ada dan berkembang
- Daya dukung sosial budaya, terutama keterbukaan untuk pendatang
KAlimantan juga dekat dan tersambung dengan selat makassar, di sana banyak sesar aktif. Keterkaitan struktur di kalimantan dan sulawesi itu juga tersambung.
Tantangannya :
1. Ketersediaan air tanah ( potensinya )
Pembicara 2: Dita Arif Yuwana, ST., MT., MA.
KAJIAN GEOLOGI UNTUK MITIGASI BENCANA DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI IKN NUSANTARA
Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Penataan ruang adalah sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatana ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Dalam regulasi pemerintahan, ada dasar hukumnya tentang pembangunan, penataan ruang dengan berbasis mitigasi bencana. Yang kita ketahui, daerah ibukota baru memiliki lempung yang tebal. Seberapa swelingnya? Lalu Apa yang sudah dilakukan dalam mecegah? Seberapa siap ibukota negara siap pindah? Jangan sampai Geologi dalam Pembangunan IKN Nusantara berperan sebagai peneliti kebencanaan dan yang memberikan mitigasi bencana yang sekiranya dapat dilakukan demi sejahteranya IKN nantinya. Yang sudah dilakukan meliputi:
Tahun 2017- Juli 2019
Desk Study dan Quick Assesment kesesuaian lahan untuk kesesuaian lahan
Agustus - Desember 2019
Survey geologi lingkungan untuk kesesuaian lahan
Survey, kajian, evaluasi dan analisis data geologi yang sudah ada serta pemetaan geologi tematik regional untuk memutakhirkan informasi geologi daerah IKN yang dituangkan ke dalam Atlas
Tahun 2020
Survey geologi tata lingkungan
Pengeboran teknik
Survey untuk identifikasi formasi pemaluan sebagai pembawa gas dangkal
Kondisi Fisik Dasar
- Geomorfologi calon wilayah inti Ibu Kota Negara (IKN)
- tersusun oleh bentuklahan punggungan, lereng dan lembah.
- Batuan penyusun calon wilayah inti terdiri dari Formasi Pamaluan (Omp), Formasi Bebulu (Nmbl), Formasi Pulaubalang (Nmpb) dan Endapan Aluvial (Qa).
- Struktur geologi yang ada di daerah IKN adalah lipatan dan sesar dengan arah umum timurlaut – baratdaya, Sesar naik di bagian baratlaut, dicirikan oleh pola anomali gayaberat residual bergradien relatif tinggi.
- Calon wilayah inti tersusun atas batulempung bersisipan batupasir. Pengukuran kekuatan tanah dan batuan (CPT) menunjukkan keterdapatan lapisan keras (qc > 150 kg/cm2) berkisar antara 2,0 – 4,0 m di bawah permukaan tanah dan setempat dapat mencapai 5,8 m. Rata-rata kedalaman lapisan keras pada kawasan tersebut menunjukkan daya dukung tanah/batuan yang cukup tinggi bagi pembangunan infrastruktur seperti bangunan ringan, jalan dan sebagainya.
- Perencanaan penataan kawasan ibukota memerlukan perhatian tertentu dalam hal keberadaan muka air tanah dan potensi air tanah yang terbatas untuk mendukung ketersediaan sumber air
- bersih.
- Pengamatan lapangan memperlihatkan proses infiltrasi air hujan ke dalam tanah umumnya rendah sehingga diperlukan penataan penyaluran air larian permukaan (runoff drainage) untuk
- mengatasi ancaman banjir.
- Calon wilayah inti termasuk dalam kategori gerakan tanah rendah. Namun, atas perlapisan batulempung dan batupasir ini berpotensi menjadi bidang gelincir longsoran bila mengalami jenuh air.
- Kerentanan erosi yang ada umumnya dipengaruhi oleh faktor alami seperti kemiringan dan panjang lereng, curah hujan, kondisi struktur geologi serta kedalaman tanah, tetapi perubahan fungsi lahan dapat merubah klasifikasi kerentanan erosi. • Kawasan rawan bencana gempa bumi rendah, berpotensi terlanda guncangan gempa bumi dengan skala intensitas sekitar V - VII MMI. Survei seismotektonik menunjukkan bahwa daerah ini termasuk dalam zona potensi bencana gempa bumi rendah – sedang, tetapi pada daerah baratlaut berada pada zona potensi bencana gempa bumi tinggi.
- Struktur geologi yang dijumpaiberdasarkan seismotektonik dan mikrozonasi adalah 3 segmen Patahan naik aktif dan normal aktif Tembinus. Usaha mitigasi yang dapat dilakukan antara lain membuat kajian sepadan gawir dan lembah.
- Sebaran unit batuan yang kemungkinan mengandung gas dijumpai di daerah Kecamatan Sepaku. Apabila pada suatu saat beban di permukaan bertambah dengan bertambahnya bangunan, dikhawatirkan terjadi keretakan yang dapat menyebabkan munculnya gas bertekanan tinggi ke permukaan dengan tekanan yang tinggi.
- Sebaran potensi swabakar batubara di calon wilayah inti tergolong dalam zona low risk, sedangkan zona high risk berada di sebelah timur dan utara wilayah inti.
Karakteristik kesesuaian lahan calon wilayah inti berdasarkan aspek geologi termasuk dalam kesesuaian lahan sedang hingga rendah. Pembangunan perkotaan di daerah ini memerlukan biaya sedang hingga tinggi karena kebutuhan air sulit terpenuhi, morfologi landai hingga terjal dan kondisi keterdapatan batulempung yang bersifat kembang susut. Pembangunan infrastruktur dan fasilitas agar memperhatikan kategori resiko sesuai SNI 1726:2012.
1. Kesesuaian lahan sedang
Resiko pembangunannya, morfologi landai-terjal bergelombang
Mitigasi:
- Cut & fill
- Untuk mengendalikan banjir pada bagian lembah agar
difungsikan sebagai tempat penampungan aliran air
permukaan
- Pembangunan pada bagian perbukitan harus
memperhatikan BCR
Waktu pelaksanaan mitigasi
- Kontruksi
- Pasca operasional
- Konstruksi
Resiko lainnya yaitu, ketersediaan air tanah sangat rendah-langka
Mitigaso
- Mencari alternatif dan mengelola sumber air
permukaan
- Membuat bendungan/waduk
Waktu mitigasi, konstruksi dan pasca operasional
2. Pemanfaatan air tanah berlebihan
Resiko pembangunan:
-Penurunan muka air tanah
-Release gas methane akibat kontak dengan batubara
Mitigasi:
- Pemasangan jaringan sumur pantau
- Monitoring kedudukan MAT dan kandungan gas methane
Waktu pelaksanaan mitigasi:
- Pasca operasional
- Pasca operasional
3. Daya dukung tanah/batuan
Resiko pembangunan:
Daya dukung pendasi sedang, dikarenakan adanya batulempung yang terdapat pada daerah tersebut diperkirakan memiliki sifat kembang susut yang cukup tinggi dan gerakan tanah
Mitigasi:
- Solusi untuk daya dukung tanah yang sedang pada batulempung agar dilakukan rekayasa teknis pada tanah dan bangunan infrastruktur untuk mengendalikan karaktetistik batulempung yg bersifat kembang susut dan gerakan tanah rayapan
Waktu pelaksanaan mitigasi
- Konstruksi
- Pasca operasional
4. Batubara
Resiko pembangunannya yaitu asap kendaraan
Mitigasi:
- Untuk Batubara yang sudah terbuka dilakukan monitoring secara berkala dan disediakan alat pemadam kebakaran. - Untuk batubara yang belum terbuka agar dimonitoring.
Waktu pelaksanaan mitigasi, pasca operasional
5. Rawa
Resiko pembangunan, menjadi daerah genangan atau banjir
Mitigasi:
- Monitoring
- Direkayasa untuk dijadikan tempat penampungan air permukaan (pond)
Waktu pelaksanaan mitigasi, pasca operasional
6. Gempa bumi
Resiko pembangunan, gangguan stabilitas tanah dan infrastruktur bangunan dan jalan/jembatan
Mitigasi:
- Perlu adanya kajian mikrozonasi
- Penerangan building code/ kode bangunan tahan gempa
- Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat
Waktu pelaksanaan mitigasi:
- Konstruksi
- Pasca operasional