Skip to main content
You are not enrolled in any courses.

Course overview
List of all available courses

Proses Penanaman Nilai

Proses Penanaman Nilai
by 198307012010122004 Laila Qodariah -
Number of replies: 11

Dari video yang ditonton, apakah makna nilai dalam kehidupan manusia? Bagaimana nilai dapat tertanaman pada manusia, dari level individu, keluarga, society, dan bangsa? Apakah fungsi nilai dalam kehidupan manusia?

In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
by 190110180035 Azka Azkiya Isdiansyah -
3a. Apakah makna nilai dalam kehidupan manusia?
Menurut Oxford Dictionary dalam Fiscus & Faith, 2019, nilai atau value adalah suatu prinsip atau standar perilaku yang menjadi panduan dan penilaian seseorang mengenai apa yang penting dalam hidup, di mana nilai yang dipegang antar budaya berbeda-beda (Smith, 2017). Selain itu, menurut Singh (2015), budaya dalam masyarakat tersebutlah yang akan membentuk nilai (value) individu, yang juga memiliki dampak pada interaksi sosial dan penilaian seseorang. Maka dari itu, makna nilai dalam kehidupan manusia adalah nilai tersebut mempengaruhi bagaimana manusia berperilaku, bagaimana manusia memandang perilakunya sendiri dan orang lain, bagaimana manusia mengatasi masalah sosial dan dan mengambil posisi dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik (Singh, 2015). Selain itu pula, nilai dalam kehidupan manusia dapat menjadi panduan bagi manusia untuk menentukan “benar” dan “salah” serta “baik” dan “buruk” (Harahap, 2018).
Berdasarkan video yang telah diberikan, video 1 (7 Reasons Why Singapore’s Crime Rate is So Low) dan video 2 (5 Reasons Why The Japanese Are So Polite), dapat terlihat bahwa masyarakat Singapura dan Jepang menanamkan nilai yang berbeda dalam kehidupannya. Masyarakat Singapura dikenal dengan ketaatan pada peraturan dan pelaksanaan hukum, dapat ditemukan dalam video bahwa masyarakat Singapura menanamkan kedisiplinan sejak kecil, mulai dari hukum yang berlaku serta konsekuensinya jika melakukan pelanggaran, serta basic etiquette yang mulai diajarkan sejak usia anak masih terbilang dini. Disamping itu, masyarakat Jepang menilai dan menjunjung tinggi kesopanan dalam hidup, serta bagaimana individu berinteraksi dengan baik ketika bermasyarakat. Hal tersebut terlihat pada video yang menggambarkan bahwa orang tua di Jepang sangat menjunjung tinggi pengajaran etiquette pada anak, bahkan di sekolah juga diterapkan oleh guru. Hal tersebut diharapkan supaya anak menghindari masalah yang dapat saja terjadi apabila tidak berlaku sopan. Orang tua Jepang juga menanamkan nilai untuk mempelajari norma sosial sehingga perilaku anak mereka tidak dikritik oleh masyarakat.

B. Bagaimana nilai dapat tertanam pada manusia dari level?
1. Individu
Nilai akan tertanam pada level individu ketika orang tersebut mengalami proses learning dari lingkungan yang ada di sekitarnya. Setelah terjadi proses learning, orang tersebut akan menginternalisasikan pada dirinya dan meniru apa yang dipelajarinya sehingga nilai dapat tertanam pada individu tersebut.
2. Keluarga
Orang tua dapat menjadi media untuk menanamkan nilai pada level keluarga. Nilai-nilai yang ingin ditanamkan pada seorang individu dapat disosialisasikan terlebih dahulu oleh kedua orang tuanya sehingga individu tersebut menjadi tahu dan paham dengan nilai-nilai tersebut sehingga dapat tertanam dalam diri. Hal ini sama dengan video yang telah disuguhkan dimana orang tua Jepang mengajarkan anaknya budaya Jepang dalam berperilaku di keluarga.
3. Society
Nilai yang tertanam pada seorang individu dapat ditanamkan pada level society dengan cara seorang melihat dan mempelajari nilai-nilai yang dipraktekkan di kalangan masyarakat sekitar. Pada video yang disuguhkan, disitu terlihat bahwa masyarakat saling mengajari dalam menganut nilai dalam berperilaku di tempat umum.
4. Bangsa
Penanaman nilai pada seorang individu pada level bangsa dapat diwujudkan dengan pembentukan dasar konstitusi dan penerapan pada seluruh peraturan perundang-undangan. Dengan dibuatnya sebuah peraturan tersebut dapat menjadikan rakyat di negara tersebut menjadi teratur serta hidup berdasarkan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa tersebut yang diimplementasikan melalui peraturan perundang-undangan. Hal ini serupa dengan contoh yang ada pada video yang telah disajikan. Disitu terlihat bahwa Singapura berhasil dengan rakyatnya yang disiplin serta taat dengan peraturan. Hal tersebut dikarenakan peraturan yang sangat ketat serta mengikat bagi setiap warga negaranya maupun warga negara asing yang sedang berada di Singapura.

3C. Jika berdasarkan video 7 Reasons Why Singapore's
Crime Rate is So Low dan 5 Reasons Why The Japanese Are So Polite, nilai yang dimiliki oleh suatu negara berfungsi sebagai dasar dari perilaku masyarakat di suatu negara. Cieciuch et al. (2015) menyatakan bahwa nilai dalam kehidupan manusia merupakan dasar dari kehidupan yang berfungsi sebagai aspek kepribadian yang mendasari dan memotivasi sikap dan perilaku serta dijadikan sebagai penentu bagi manusia untuk berperilaku. Nilai pada manusia juga dapat dijadikan sebagai benteng dari pengaruh luar untuk menjaga stabilitas budaya dalam suatu kelompok masyarakat dan pemersatu dalam kehidupan manusia yaitu solidaritas antara kelompok atau masyarakat. Nilai juga berfungsi sebagai bobot dalam kehidupan manusia untuk mengetahui apakah suatu perilaku merupakan pilihan yang baik atau buruk dan mengetahui seberapa baik atau buruk suatu perilaku dengan yang lain.
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Proses Penanaman Nilai
by 190110180083 VANIA DIVA SALSABILA HAMZAH -
Makna nilai dalam kehidupan manusia adalah sebagai standar budaya yang dimiliki suatu kelompok yang dipegang sebagai standar budaya untuk menentukan mana yang baik, buruk, benar, salah dan berperan sebagai panduan ideal untuk hidup.

Nilai dapat tertanam pada manusia dengan cara:
1) Level individu
Pada level individu didapatkan dari pendidikan sejak dini dan kedekatan dengan keluarga membuat mereka merasa tidak enak untuk menolak aturan yang telah ditetapkan keluarganya.
2) Level keluarga
Pola asuh, pengalaman masa lalu, dan nilai yang dianut nenek moyang, yang kemudian diterapkan kepada keluarganya secara terus menerus membentuk suatu nilai/value yang sama pada diri individu tersebut.
3) Level society
Nilai leluhur, kepercayaan masyarakat, dan tuntutan di masyarakat.
4) Level bangsa
Filosofi dan agama yang dianut suatu bangsa.

Fungsi nilai:
1) Dapat mencirikan identitas suatu kelompok / profesi
2) Menjadi panduan ideal untuk hidup
3) Menjadi landasan dari norma

- Vania Diva Salsabila Hamzah
Perwakilan Kelompok 2
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Proses Penanaman Nilai
by 190110180133 INEZA TIFANY PUTRI -
Makna nilai dalam kehidupan manusia
Nilai merupakan prinsip yang dipandang sebagai sesuatu hal yang ”baik” atau “buruk”, tetapi hal ini bersifat abstrak, dengan kata lain tidak secara langsung ditunjukkan sebagai suatu perilaku tertentu. Suatu hal yang membedakan antara nilai dengan norma adalah proses yang terjadi pada manusia, kalau nilai merupakan suatu prinsip yang dimiliki oleh individu di dalam dirinya untuk berperilaku, sedangkan norma merupakan suatu prinsip yang dimiliki oleh lingkungan di sekitar individu untuk berperilaku. Nilai ini dapat dikategorisasikan seperti sistem keyakinan misalnya agama, namun kegiatan seperti rutinitas juga termasuk ke dalamnya. Rutinitas sendiri sebenarnya bukan bagian dari nilai karena ia termasuk ke dalam suatu pola perilaku spesifik tetapi rutinitas dapat menjadi bagian dari nilai seperti hal nya pada perilaku menyikat gigi (norma), awalnya perilaku ini dilakukan karena adanya dorongan dari luar. Seiring berjalannya waktu, perilaku ini menjadi rutinitas yang diturunkan ke anak-anak sehingga mencapai kondisi dimana mereka merasa tidak nyaman ketika tidak bisa menyikat gigi (nilai).

Dalam video 6 (Culture, Norms, & Value), dijelaskan melalui contoh antara norma dan nilai seperti masyarakat Jepang umumnya memegang teguh nilai terkait “privacy” dan “personal space”, dimana ini tidak ditunjukkan dengan konsep umum dari suatu perilaku spesifik seperti “don’t spy on people” dan “leaving space between you and other people”. Pada video 5 (Tiger Mom Effect), dimana orang tua di China berupaya keras untuk menanamkan nilai-nilai seperti bekerja keras (orang tua meminta anak untuk melakukan suatu hal semaksimal mungkin dan harus perfect atau “no pain, no gain”, misal: belajar, latihan setiap hari tanpa istirahat); safety (orang tua melarang anak untuk bermain di luar bersama teman dengan alasan lingkungan yang berbahaya). Pada video 1 (7 Reasons Why Singapore’s Crime Rate is So Low) dan video 2 (5 Reasons Why The Japanese Are So Polite), menunjukkan negara yang menanamkan nilai-nilai pada warga nya secara ekstrim seperti sudah ditanamkan sedari kecil ataupun memunculkan konsekuensi yang cukup keras bagi individu bila menyimpang. Contohnya, warga Singapura terkait nilai ‘self discipline’ & ‘follow the law’ ditunjukkan dengan mementingkan segala sesuatu dari hal sekecil apapun dan konsekuensi langsung ketika melanggar peraturan. Maupun warga Jepang terkait nilai ‘respect elders’, kedekatan dengan orang tua menimbulkan anak nurut; ‘individual status & formal packing order’, penggunaan level bowing, bahasa formal & kasual bergantung kepada siapa & kapan; ‘oneness’, pemakaian seragam di sekolah; & ‘serve other needs before ourselves’.

Bagaimana nilai dapat tertanam pada manusia, dari level individu, keluarga, society, dan bangsa
Nilai yang dipegang oleh manusia dipengaruhi oleh budaya tempatnya tinggal. Budaya merupakan cara hidup sekelompok orang yang ditransmisikan secara turun temurun. Melalui berbagai cultural practices, manusia mempelajari standar yang dipandang benar serta bagaimana orang-orang di sekitarnya memandang dunia. Individu pertama kali terpapar oleh budaya melalui interaksi dalam keluarga. Sebagaimana pada video 1 (7 Reasons Why Singapore’s Crime Rate is So Low) dijelaskan bahwa sejak kecil orang tua di Singapura telah menanamkan kedisiplinan dan tidak segan memberikan hukuman apabila anaknya melanggar aturan. Perilaku disiplin yang diajarkan oleh orang tua ini terus dilakukan hingga anak dewasa dan tertanam nilai untuk taat pada aturan yang ada. Dalam skala yang lebih besar, nilai yang tertanam di masyarakat dan suatu bangsa juga dipengaruhi oleh budaya atau cara hidup bangsa tersebut yang telah turun temurun diajarkan. Nilai tersebut tercermin pada perilaku yang ditunjukan oleh masyarakat serta konsekuensinya.


Fungsi nilai dalam kehidupan manusia
Nilai mempengaruhi pengambilan keputusan manusia karena individu bertindak biasanya untuk mencapai atau mempertahankan tujuan dari nilai-nilai yang dimilikinya. Selain itu, proses dari berperilaku juga dipengaruhi oleh nilai seperti perencanaannya dengan adanya prioritas nilai-nilai dimana semakin tinggi prioritas, semakin besar perencanaan tindakan yang dapat menunjukkan nilai tersebut. Nilai juga mempengaruhi perilaku melalui perhatian, persepsi serta interpretasi suatu situasi tertentu. Dalam hal ini, nilai yang tertanam dalam diri individu akan merefleksikan nilai-nilai lingkungan sosialnya. Contohnya, masyarakat di Indonesia memiliki nilai penting terkait “marriages before sex” dimana menunjukkan perilaku warga yang nyinyir ketika ada orang yang ‘kumpul kebo’ ataupun munculnya rasa malu bagi wanita yang sudah tidak perawan. Bagaimana individu dalam lingkungan sosial tertentu berperilaku sehingga mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia.

Sumber:
Frese, M. (2015). Cultural Practices, Norms, and Values. Journal of Cross-Cultural Psychology, 46(10), 1327–1330. doi:10.1177/0022022115600267
Cieciuch, J., Schwartz, S. H., & Davidov, E. (2015). Values, Social Psychology of. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences, 41–46. doi:10.1016/b978-0-08-097086-8

- Ineza Tifany Putri
Perwakilan Kelompok 6A
In reply to 190110180133 INEZA TIFANY PUTRI
Re: Proses Penanaman Nilai
by 190110180133 INEZA TIFANY PUTRI -
Berikut anggota kelompok 6:
1. Angela Fergie A (190110180025)
2. Talitha Irhamna S (190110180027)
3. Rizky Putri A (190110180033)
4. Salsabila Yulianti (190110180043)
5. Ignasia Geralda Vania (190110180073)
6. Syarafina Zata Yumni (190110180099)
7. Ineza Tifany P (190110180133)
8. Naomi Marsha A M (190110180155
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Proses Penanaman Nilai
by 190110180001 Janice Grace Lusiani Larasati Simanjuntak -
Dari video yang ditonton, apakah makna nilai dalam kehidupan manusia?
Menurut video “1 Culture Norms and Value”, value atau nilai adalah prinsip atau hal yang dianggap penting oleh manusia. Menurut video “Symbols, Values & Norms: Crash Course Sociology #10”, nilai adalah standar budaya yang digunakan manusia untuk memutuskan apa yang baik atau buruk, apa yang benar atau salah. Pada kehidupan manusia, nilai berfungsi sebagai pedoman (hal ideal) yang kita jalani. Nilai adalah kepercayaan-kepercayaan yang harus diyakini dan sikap-sikap yang harus dimiliki seseorang, melibatkan hal apa yang penting bagi seseorang (Santrock, 2016). Nilai yang dimiliki oleh seseorang memengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakannya dalam kehidupan.

Setiap budaya memiliki nilai sendiri, berbeda budaya berbeda pula nilai yang dimilikinya. Nilai-nilai tersebut membuat kita melihat struktur sosial yang berbeda-beda di dunia. Contohnya, negara-negara barat menjunjung nilai individualisme yang menekankan pada pentingnya kebutuhan/kepentingan individu, sedangkan negara-negara timur menjunjung nilai kolektivisme yang menekankan pentingnya kebutuhan kelompok di atas kebutuhan individu.

Bagaimana nilai dapat tertanam pada manusia, dari level individu, keluarga, society, dan bangsa?
Pada level individu nilai dapat tertanam karena kesadaran terhadap lingkungan sosialnya. Kesadaran membantu individu mempelajari dan menghayati budaya, hukum serta harapan sosial yang ada sehingga individu dapat memformulasikan nilai-nilai dalam dirinya.

Pada level keluarga, nilai ditanamkan dengan diawali penerapan nilai-nilai oleh orang tua. Orang tua menjadi figur yang penting bagi anak. Penanaman nilai pada level ini dapat dilakukan dengan adanya pendekatan antara orang tua dan anak. Kedekatan yang terjalin dapat menciptakan hubungan yang melekat satu sama lain sehingga nilai-nilai yang diterapkan orang tua dapat menjadi referensi anak dalam menjalani kehidupan sosialnya. Hal ini didukung dalam penerapan pengasuhan orang tua dalam Santrock (2018) bahwa perkembangan moral anak didukung oleh kualitas relasi, strategi yang proaktif dan adanya dialog percakapan satu sama lain.

Sementara itu dalam level society, budaya turun temurun yang ada juga dapat menjadi acuan nilai-nilai yang tertanam dalam masyarakat. Seperti Suku Badui yang memiliki prinsipnya sendiri dalam menjalani kehidupan sosial maupun kesehariannya. Mereka memegang teguh nilai dan norma leluhur mereka.

Pada level bangsa, nilai dapat tertanam berasal dari sistem bangsa itu sendiri. Seperti hukum yang diterapkan suatu bangsa, tentu akan mempengaruhi perilaku masyarakatnya. Apakah hukum yang diterapkan tegas atau justru sebaliknya. Contohnya seperti Singapura yang dinobatkan sebagai negara dengan tingkat kejahatan terendah di dunia. Hal ini dikarenakan sistem hukum yang diterapkan sangatlah tegas dan memberikan konsekuensi bagi pelanggarnya. Contoh lainnya di negara jepang yang memiliki filosofi dan keyakinan negaranya sendiri. Mereka hidup dengan budaya kolektif untuk menjaga harmonisasi dalam bangsa tersebut. Keberadaan sistem dan budaya ini dapat menciptakan nilai-nilai bangsa.

Apakah fungsi nilai dalam kehidupan manusia?
Menurut Santrock (2018), nilai adalah kepercayaan-kepercayaan yang harus diyakini dan sikap-sikap yang harus dimiliki seseorang, melibatkan hal apa yang penting bagi seseorang. Nilai adalah kepercayaan dan sikap tentang bagaimana sesuatu seharusnya terjadi, apa yang penting bagi kita, dan kita nilai yang kita berikan pada semua hal. Semua orang memiliki nilai yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakan dirinya sendiri. Seseorang menyematkan nilai pada politik, agama, uang, seks, pendidikan, membantu orang lain, keluarga, teman, karier, recognition, self-respect, dan sebagainya. Maka dari itu, nilai memengaruhi seseorang untuk berperilaku baik untuk dirinya sendiri maupun pada masyarakat.

Menurut Bardi dan Schwartz (2003) dan Schwartz (2009), terdapat mekanisme menghubungkan nilai dengan perilaku.
1. Nilai memengaruhi pilihan seseorang untuk bertindak dalam mencapai, menegaskan, atau mempertahankan tujuan yang dianggap sebagai nilai-nilai penting bagi mereka.
2. Nilai memengaruhi perilaku dalam membuat perencanaan apa yang akan dilakukan seseorang kedepannya.
3. Nilai memengaruhi perilaku, perhatian, persepsi, dan interpretasi terhadap suatu situasi yang dialami seseorang.

Dalam Kode Etik HIMPSI dikatakan bahwa peneguhan otoritas profesi Psikologi, dibangun atas dasar keahlian di bidang Psikologi, yang menjadi bingkai pembatas terhadap pengaruh otoritas dari komunitas di luar psikologi, dalam menetapkan kaidah-kaidah nilai yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis umat manusia, khususnya masyarakat Indonesia. Nilai juga diperlukan oleh suatu kelompok (termasuk kelompok budaya, profesi, dan lain-lain) dalam menetapkan cara untuk bertindak dan berperilaku. Dalam bidang psikologi, nilai ini juga dibuat untuk semakin menguatkan kepercayaan masyarakat dalam menghargai profesi psikologi dan mengatur tata cara ilmuwan psikologi dan psikolog dalam bertindak untuk mencapai suatu tujuan yang penting dan dipercayai yaitu meningkatkan kesejahteraan psikologi bagi seluruh umat manusia.

Nilai juga bisa berlaku pada suatu wilayah (seperti negara), budaya, atau kepercayaan. Hal ini dapat terlihat dari perilaku yang ditunjukan masyarakat dari berbagai negara dan budaya yang terdapat pada video yang diberikan. Masyarakat di Singapura, Jepang, dan China memiliki ciri khasnya masing-masing dalam berperilaku, hal ini sangat mungkin terjadi karena nilai yang diyakini dari masyarakat yang berbeda negara tersebut juga berbeda. Hal ini sesuai dengan video 4 “Symbols, Values & Norms: Crash Course Sociology #10” yang menjelaskan bahwa nilai merupakan standar budaya yang digunakan seseorang untuk memutuskan apa yang baik atau buruk, apa yang benar atau salah. Nilai berfungsi sebagai cita-cita dan pedoman yang dijalani seseorang. Budaya yang berbeda memiliki nilai yang berbeda dan nilai ini dapat membantu menjelaskan mengapa terdapat banyak struktur sosial yang berbeda di seluruh dunia. Nilai dan keyakinan budaya juga dapat membantu membentuk pedoman perilaku dalam budaya tersebut.

Kelompok 4A
1. Janice Grace LLS (180001)
2. Ananda Rainy Akram (180053)
3. Afiya Nur Nabila (180045)
4. Viory Sjahrani (180115)
5. Nabila Mufida LD (180149)
6. Maria Carolin (190011)
7. Rachma Syifa (190017)
8. Timothea Indirakristi Aditaputri (190065)
9. Putri Adinda Novianti (190121)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Proses Penanaman Nilai
by MAULIDYA MAULIDYA KUMARANINGTYAS -
Dari video yang ditonton, nilai atau values merupakan sebuah standar kebudayaan yang digunakan untuk menentukan apa yang baik dan buruk, benar atau salah.

Pada tingkat individu, nilai tertanam melalui internalisasi dari belief, representasi sosial yang dianggap dapat dijadikan rasional atau dasar dari perilaku yang dia lakukan, representasi sosial dan belief ini didapatkan dari lingkungan sekitarnya dengan keluarga menjadi salah satu sumber yang paling dekat (Oyserman, 2002).

Dalam tingkat keluarga, nilai dapat tertanam ketika anggota keluarga mengadaptasi beberapa nilai kebudayaan atau lingkungan untuk diterapkan dalam kehidupan keluarganya. Nilai ini ditetapkan bersama dan akan menjadi panduan pembuatan nilai individu anggota keluarga setelahnya. Dapat dilihat dari video mengenai orang tua di Republik Rakyat Tiongkok, dimana orang tua menginginkan anaknya untuk berusaha menguasai berbagai keahlian. Pandangan tersebut diperoleh karena persaingan yang ketat di Tiongkok. Orang tua jadinya menginginkan yang terbaik untuk anak, walaupun kadang hal tersebut menjadi suatu beban bagi anak tersebut. Intinya orang tua dapat menurunkan dan mengaplikasikan nilai yang dianut kepada anak dari lingkungan keluarga tersebut.

Dalam tingkat society, nilai dapat tertanam berdasarkan tujuan dan prinsip-prinsip didirikannya society tersebut, misalnya jika sebuah society memiliki tujuan memajukan hak asasi manusia maka society tersebut akan menganut nilai yang menjunjung hak asasi manusia. Dalam video mengenai masyarakat Baduy, terlihat bahwa nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat adalah nilai-nilai untuk mereka saja. Dikatakan bahwa mereka (masyarakat Baduy dalam) masih menganut adat-istiadat terdahulu, yaitu tidak menerima budaya modern. Karena mereka merasa bahwa orang pintar itu malah dapat membodohi mereka. Adapun masyarakat Baduy luar, masih memegang nilai-nilai seperti tidak boleh sekolah, menggunakan jimat agar terbebas dari penyakit yang berhubungan dengan hal-hal gaib, membuat rumah yang menghadap selatan, rumahnya berbentuk panggung, dan tidak memanen padi banyak-banyak tetapi disimpan di dalam lumbung padi. Namun, berbeda dari Baduy dalam, Baduy luar sudah terbuka dengan adanya teknologi seperti pemakaian handphone.

Dalam tingkat bangsa ada aspek evolusi yang berperan dalam penanaman sebuah nilai. Topografi suatu bangsa berbeda antara satu sama lain, kebutuhan berdasarkan topografi tersebut berbeda pula. Nilai yang dianut suatu bangsa akan bergantung pada kebutuhan utama bangsa tersebut untuk bertahan hidup. Jika bangsa tersebut lebih membutuhkan adanya kegiatan berkelompok maka bangsa tersebut akan memiliki nilai-nilai yang cenderung kolektivis, begitu pula sebaliknya (Higgins, 2016).
Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat cenderung menghargai individualisme dan menekankan pentingnya kebutuhan setiap orang, sedangkan negara-negara timur seperti Cina cenderung menghargai kolektivisme dan menekankan pentingnya kelompok daripada individu. Kita tidak dapat melihat apakah nilai dan norma kita baik atau buruk kecuali jika kita melihat masa lalu dan melihat dengan mata analitis seseorang

Nilai merupakan harapan dan penunjuk arah yang digunakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai dapat menjadi sebuah alat self-regulation ketika menghadapi situasi sosial atau dalam melakukan interaksi sosial (Oyserman, 2002).

Sumber :
Higgins, E. T. (2016). What is value? Where does it come from? A psychological perspective [E-book]. In T. Brosch & D. Sander (Eds.), Handbook of Value: Perspectives from Economics, Neuroscience, Philosophy, Psychology and Sociology (1st ed., pp. 43–62). Oxford University Press.
Oyserman, D. (2002). Values: psychological perspectives. (draft elsevier)

- Kelompok 5A -
1. Tia Fitriani (190110180021)
2. Afriliani Dwi Hartati (190110180023)
3. Irvia Rizky Valencianes (190110180065)
4. Tafia Afina Putri (190110180069)
5. Angela Anastasya Lasut (190110180071)
6. Maulidya Kumaraningtyas (190110180087)
7. Grace Kezia Oktavian (190110180093)
8. R Satrio Wibowo (190110180121)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Proses Penanaman Nilai
by 190110180019 Winni Naurahma Astri -
Nilai merupakan prinsip moral, sosial, atau estetika yang diterima oleh individu atau masyarakat sebagai panduan untuk apa yang baik, diinginkan, atau penting (“APA Dictionary of Psychology”, 2021). Dalam konteks kehidupan masyarakat berbudaya, setiap budaya mungkin memiliki nilai yang berbeda antara satu dengan yang lainnya (Smith, 2017). Budaya inilah yang nantinya berperan dalam menentukan nilai-nilai yang dipegang oleh seseorang. Hal tersebut menunjukkan seolah budaya secara tidak langsung mempengaruhi interaksi sosial dan penilaian individu (Singh, 2015). Sejalan dengan pernyataan tersebut, Harahap (2015) dalam kajiannya juga menyimpulkan bahwa nilai merupakan sarana untuk membedakan perilaku yang benar atau salah, baik atau buruk, objektif dan subjektif sesuai dengan kehendak masyarakat. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam kehidupan manusia, nilai memiliki makna sebagai pengarah/pemandu perilaku/cara memandang ses manusia dalam kesehariannya. Hal tersebut juga terlihat jelas dalam video yang berjudul “7 Reasons Why Singapore's Crime Rate is So Low”. Dalam video tersebut dijelaskan bahwa masyarakat di negeri Singapura memiliki perilaku taat aturan. Perilaku taat aturan tersebut ada karena masyarakat Singapura sangat menghargai kedisiplinan, sehingga nilai “disiplin” mengarahkan perilaku masyarakat Singapura menjadi taat aturan. Selanjutnya, pada video yang berjudul “5 Reasons Why The Japanese Are So Polite” dijelaskan bahwa masyarakat Jepang sangat ramah kepada satu sama lain. Perilaku ramah kepada satu sama lain tersebut ada karena masyarakat Jepang sangat menghargai kebersamaan atau nilai kolektif. Masyarakat Jepang lebih menghargai kelompok dibandingkan dirinya sendiri, sehingga masyarakat Jepang cenderung berperilaku ramah untuk menghindari adanya konflik dalam kelompok.

Dalam kehidupan manusia, nilai memiliki fungsi-fungsi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh beberapa ahli terkait nilai, yaitu:
a. Nilai berperan sebagai pengarah sekaligus ukuran bersikap dan bertindak dalam kehidupan bermasyarakat (Umanailo, 2014)
b. Nilai merupakan pembeda antara perilaku yang benar atau salah, baik atau buruk, objektif dan subjektif sesuai dengan kehendak masyarakat (Harahap, 2015).
c. Nilai merupakan panduan manusia dalam menentukan gagasannya terkait cara terbaik untuk hidup (Myers, dkk., 2016).
d. Nilai berfungsi sebagai standar individu dalam membentuk kesan mengenai dirinya sendiri, orang lain, dan dunia (Park, 2012).
e. Nilai berfungsi sebagai standar kualitas dari sesuatu (Abidin, 2014).

Berdasarkan penjabaran mengenai fungsi-fungsi nilai menurut para ahli, dapat disimpulkan bahwa fungsi nilai adalah sebagai panduan bagi manusia untuk menentukan baik atau buruknya suatu hal, mulai dari perilaku, diri sendiri, orang lain, maupun dunia luar. Fungsi nilai tersebut juga dapat terlihat pada video “5 Reasons Why The Japanese Are So Polite”. Pada video tersebut dijelaskan bahwa orang Jepang menjaga tata kramanya di tempat umum. Apabila hal tersebut tidak dilakukan, maka orang tersebut dapat dinilai buruk karena memicu adanya ketidaknyamanan dalam kelompok. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang Jepang memiliki nilai bahwa kelompok lebih utama dibandingkan individu. Karenanya, orang Jepang menunjukkan perilaku yang menjaga ketentraman kelompok, dan menilai bahwa ia yang tidak menjaga ketentraman kelompok sebagai orang yang buruk.
Berdasarkan video “7 Reasons Why Singapore's Crime Rate is So Low” dipaparkan bahwa perilaku taat aturan masyarakatnya bersumber dari banyak hal. Dalam tingkat individu dan keluarga, nilai taat aturan individu dapat muncul dari lingkungan terdekat individu, seperti keluarga dan sekolah yang selalu mengajarkan untuk disiplin sejak dini. Dalam tingkat masyarakat, nilai taat aturan dibangun melalui kontrol-kontrol yang ada di lingkungan publik, seperti penjagaan yang ketat pada lingkungan publik, mulai dari CCTV hingga masyarakat yang sigap melapor ketika terjadi pelanggaran aturan. Dalam tingkat bangsa, nilai-nilai ditanamkan dengan menggunakan kekuatan dari pihak yang berkuasa, seperti hukum. Dalam video tersebut juga dijelaskan bahwa denda yang dikenakan bagi pelanggar hukum di Singapura sangat tinggi. Hal ini juga mungkin secara tidak langsung dapat mempengaruhi nilai yang dianut individu terkait taat aturan.

Daftar Pustaka
Abidin, Z. (2014). Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Bandung.
APA Dictionary of Psychology. Dictionary.apa.org. (2021). Retrieved 10 September 2021, from https://dictionary.apa.org/morals
Myers, D.G. and Twenge, J.M. (2016) Social Psychology. 12th Edition, McGraw-Hill, New York.
Park, E. (2012). Cosmopolitan theories in psychology. In R. Rieber (Editor-in-Chief), Encyclopedia of the history of psychological theories (pp. 224–234). New York City: Springer.
Singh, P. (2015). Values Across Cultures, Development of. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences, 27–32. doi:10.1016/b978-0-08-097086-8.23045-6.
Smith, P. B. (2017). Culture and Values. Reference Module in Neuroscience and Biobehavioral Psychology. doi:10.1016/b978-0-12-809324-5.05743-6.
Umanailo, M Chairul Basrun. (2014). Fungsi Nilai, Moral, Keadilan, Ketertiban Dan Kesejahteraan Masyarakat.

Kelompok 7 Kelas A
Asha Kamila (190110180011)
Winni Naurahma (190110180019)
Hamidah Rabbani (190110180049)
Syaffa Salsabila (190110180059)
Sulthan Akbar Bilad (190110180067)
Hafiyyan Izdihar Iman (190110180091)
Zakaria Anshari (190110180143)
Safira Audia (190110180147)
Rafid Khair (190110190045)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Proses Penanaman Nilai
by TRIE Trie Septia Nurhaliza -
Makna nilai dalam kehidupan manusia
Makna nilai dalam kehidupan seseorang akan berbeda tergantung budaya dan lingkungannya, misalnya bagaimana mereka mendapat suatu pengajaran yang bisa berasal dari lingkungan keluarga, lingkungan tetangga, dan lainnya. Contoh: Orang-orang Jepang sangat sopan karena sejak kecil lingkungannya mengajarkan nilai-nilai Taoisme dan agama Shinto. Selain kesopanan, kedua kepercayaan ini juga menjunjung tinggi nilai optimis, berprasangka baik, dan mengutamakan keluarga. Penerapan dari nilai ini di Jepang sendiri adalah sejak kecil anak-anak sudah diajarkan bagaimana caranya menghormati guru dan orang-orang yang lebih tua.

Contoh lainnya dapat dilihat di Singapura yang memiliki tingkat kejahatan rendah karena kinerja polisi yang baik, diterapkannya perilaku disiplin sejak kecil, banyaknya CCTV yang akan mengawasi mobilitas masyarakat, aplikasi hukuman yang berat untuk tiap tindakan kejahatan, dan kebanyakan orang di sana sudah berkecukupan. Dari peraturan-peraturan tersebut dapat dilihat bahwa Singapura sangat menjunjung tinggi disiplin dan akhirnya disiplin menjadi salah satu nilai yang dipegang oleh rakyatnya.

Bagaimana nilai dapat tertanam pada manusia?
Dalam tingkatan individu, proses nilai dapat tertanam dapat muncul dari pengalaman, karena pengalaman seseorang dalam menjalani hidup membantu mereka menanamkan nilai-nilai dalam kehidupan mereka, dan juga pengalaman membantu seseorang untuk membentuk suatu nilai. Kemudian kepercayaan yang merupakan salah satu bagian yang dapat mendasari nilai-nilai yang dipegang oleh individu. Selain itu, ada fungsi psikologis manusia, di mana setiap individu mendapatkan informasi dari lingkungan sekitarnya dan kemudian individu tersebut membentuk nilai berdasarkan kemampuan dia dalam mengolah dan mempersepsikan informasi tersebut.

Cara penanaman nilai pada tingkatan keluarga bisa datang dari pola asuh yang diterapkan dari keluarga yang biasanya mengatur nilai-nilai dalam berperilaku sehari-hari, seperti tata krama dan sopan santun. Selain itu, keadaan keluarga seperti birth order, role dalam keluarga, dan komposisi keluarga dapat menghasilkan nilai-nilai yang berbeda pada tiap individu. Misalnya anak yang terlahir dalam keluarga yang telah bercerai dapat memiliki nilai yang berbeda dengan anak yang memiliki orangtua yang masih bersama.

Pada tingkatan society (masyarakat), nilai dapat tertanam dari budaya dan agama. Penerapan nilai yang berasal dari dua hal ini sangat erat kaitannya dengan lingkungan, karena bisa saja nilai yang tertanam dalam budaya dan agama satu akan berbeda dengan yang lain.

Terakhir, dalam level bangsa, proses penanaman nilai berasal dari hukum. Hal ini karena suatu bangsa biasanya menerapkan ideologi yang menghasilkan nilai-nilai yang harus diterapkan dan dilabeli sebagai hukum di negara tersebut yang mana akhirnya hukum itu harus dipatuhi oleh setiap warga negara. Contohnya dalam video “7 Reasons Why Singapore's Crime Rate is So Low” dinyatakan bahwa di Singapura terdapat hukum yang ketat dan harus ditaati oleh warga negara sehingga Singapura menjadi negara dengan tingkat kejahatan yang rendah.

Fungsi nilai dalam kehidupan manusia
Handoyo, dkk. (2007), fungsi nilai dalam kehidupan manusia dapat menjadi:
1) Sebagai faktor pendorong, hal ini berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan.
2) Sebagai penunjuk arah, cara berpikir, berperasaan dan bertindak, serta panduan menentukan pilihan, sarana untuk menimbang penilaian masyarakat, penentu dalam memenuhi peran sosial.
3) Nilai dapat berfungsi sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan pengikat tertentu. Nilai mendorong, menuntun dan kadang-kadang menekan individu untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan nilai yang bersangkutan. Nilai menimbulkan perasaan bersalah dan menyiksa bagi pelanggarnya.
4) Nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas.
5) Nilai dapat berfungsi sebagai benteng perlindungan

Daftar Pustaka:
Handoyo, E., Su'ud, A., & Sunarjan, Y. Y. F. R. (2007). Studi Masyarakat Indonesia. Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.

Kelompok 3A:
Trie Septia N. (190110180037)
Adilla Aulia A. (190110180051)
Lindia Lastri Muthiah (190110180105)
Cantika Athallarahmi (190110180107)
Aninda Nurbaeti Rahman (190110180111)
Adinda Nadine N.A. (190110180113)
M. Habibi Putra W. (190110180117)
Sherafina Natasya (190110190053)
Steffi Madeleine (190110190057)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Proses Penanaman Nilai
by 190110180139 KIRANA MICHELLIA PRIYANKA -
a. Makna nilai dalam kehidupan manusia
Nilai atau value adalah suatu prinsip atau standar perilaku seseorang mengenai apa yang penting dalam hidup, di mana nilai yang dipegang antar budaya berbeda-beda (Fiscus Faith, 2019). Nilai pada diri seseorang mempengaruhi bagaimana ia berperilaku, mengatasi masalah dalam kehidupannya, dan bagaimana ia memandang perilakunya dan orang lain. Nilai adalah suatu hal yang
mengarahkan manusia dalam berperilaku untuk mencapai suatu tujuan. Dalam budaya jepang, terlihat bahwa nilai kolektivisme dijunjung tinggi sehingga kepentingan kelompok lebih penting dibandingkan kepentingan individu. Nilai individualisme yang lebih tinggi pada budaya barat lebih mengutamakan kepentingan individu dibandingkan kelompok.

b. Bagaimana nilai dapat tertanam pada manusia
i. Individu
Sejak kecil warga jepang sudah menanamkan nilai kesopanan dan ketaatan melalui orang tua sehingga anak mentaatinya. Warga jepang menginternalisasikan nilai yang diajarkan pada dirinya. Nilai kebersamaan, kedisiplinan dan saling menghargai juga ditanamkan melalui lingkungan sekolah dalam menjaga kebersihan kelas.
ii. Keluarga
Nilai tertanam pada manusia dalam level keluarga melalui orang tua yang mengasuh dan menurunkan nilai-nilai yang mereka dapatkan dari leluhur mereka masing-masing kepada anak mereka. Hal ini merupakan salah satu penanaman nilai yang cukup kuat, karena pada beberapa negara seperti Jepang, terdapat nilai untuk menjunjung keluarga lebih tinggi daripada individu.
iii. Society
Dalam society, nilai tertanam karena adanya kepercayaan umum yang terbentuk dari sekelompok orang dengan nilai yang sama secara turun temurun.
iv. Bangsa
Berdasarkan video yang disajikan, nilai dapat tertanam pada bangsa Jepang karena selama berabad-abad, mereka diajarkan untuk mengikuti gaya hidup yang dibawakan oleh filosofi dan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Jepang sehingga nilai tersebut tertanam hingga sekarang.

c. Fungsi nilai dalam kehidupan manusia adalah sebagai pedoman, patokan, ukuran dan arah tujuan bagi manusia dalam bertindak. Selain itu, nilai dapat mencirikan identitas suatu kelompok karena setiap kelompok manusia memiliki nilai-nilai yang unik dan berbeda.
 

Kirana Michellia Priyanka perwakilan dari kelompok 8A:
  • Hamni Aisyah Amini (190110180031)
  • Erika Chaidar (190110180055)
  • Mikaila Reggiana Sulaeman (190110180085)
  • Cut Shabirah Miadarma (190110180109)
  • Farhan Hidayat (190110180123)
  • Azzahra Nurfatihah Elnithania Poeloengan (1901110180125)
  • Kirana Michellia Priyanka (190110180139)
  • Rafika Halidaniar (190110180151)
  • Viola Sahda Rembulan (190110180153)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Proses Penanaman Nilai
by 190110180079 ARYO BIMO ADJIE -
a. Makna Nilai Dalam Kehidupan Manusia
Makna nilai dalam kehidupan manusia adalah sebagai suatu hal yang dijadikan pedoman untuk manusia berperilaku dalam hidup. Bagaimana manusia memandang perilakunya sendiri dan orang lain, bagaimana manusia mengatasi masalah sosial dan dan mengambil posisi dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik. Selain itu, makna nilai juga dapat dijadikan acuan dalam menentukan mana yang baik, buruk, benar, salah. Dari video yang ditonton kita juga bisa melihat bahwa walaupun nilai ini pada dasarnya sama sebagai pedoman untuk manusia berperilaku dalam hidup, namun nilai ini dapat berbeda pada budaya yang berbeda. Oleh karena itu, nilai baik, buruk, benar, salah juga sangat tergantung pada budaya.

b. Bagaimana Nilai Dapat Tertanam?
Nilai dapat tertanam pada manusia melalui beberapa tingkatan atau level. Tingkatan ini dimulai dari yang paling kecil, yaitu level individu melalui pembelajaran sendiri. Sampai yang paling luas, yaitu level bangsa melalui peraturan dsb.
- Level Individu
Nilai akan tertanam pada level individu ketika orang tersebut mengalami proses pembelajaran dari lingkungan yang ada di sekitarnya. Proses pembelajaran dari lingkungan yang paling utama adalah dari keluarga. Maka dari itu, nilai seseorang biasanya sangat dipengaruhi oleh nilai yang ada di dalam keluarganya.
- Level Keluarga
Nilai pada level keluarga ini biasanya terbentuk/tertanam atas pengaruh dari orang tua yang mengajarkan nilai-nilai tertentu pada anaknya, kemudian nilai itu menjadi nilai individu bagi anak dan juga menjadi nilai pada level keluarga. Pada video terlihat bagaimana orang tua mengajari anaknya untuk berperilaku dalam keluarga.
- Level Society
Nilai berikutnya pada level society dapat tertanam melalui proses kehidupan bermasyarakat. Individu akan mengamati dan memproses mana nilai yang baik, buruk, benar, salah berdasarkan apa yang dipercayai oleh lingkungan/masyarakatnya. Nilai pada level society ini juga dapat menjadi tuntutan/pedoman individu dalam berperilaku di lingkungan sosial/masyarakat.
- Level Bangsa
Pada level yang lebih luas, yaitu level bangsa, nilai dapat tertanam melalui bentuk ideologi, filosofi, dan agama suatu bangsa. Kemudian ke 3 hal itu yang nantinya akan tergambar jelas dalam bentuk undang-undang atau hukum. Oleh karena itu, undang-undang dan hukum ini biasanya berbeda di setiap bangsa, karena ideologi, filosofi, dan agamanya juga berbeda. Melalui undang-undang dan hukum itulah tergambar jelas mana nilai yang baik, buruk, benar, salah menurut bangsa tersebut. Nilai pada level bangsa juga ini biasanya menjadi aturan yang nantinya akan memuat hukuman/sanksi bagi yang melanggar aturan tersebut.

c. Fungsi Nilai Dalam Kehidupan Manusia
- Nilai memiliki fungsi sebagai stabilitas dan keseragaman dalam interaksi kelompok.
- Nilai sebagai pedoman yang mengarahkan dan membentuk manusia dalam berpikir dan berperilaku.
- Nilai sebagai pedoman yang membentuk norma yang mengatur aktivitas tertentu. Aturan atau norma tersebut diterima dan diikuti terutama dalam mewujudkan nilai-nilai yang diterima kebanyakan orang.

[ARYO BIMO ADJIE]
[PERWAKILAN KELOMPOK 9]