Nama : Risya Ayu Irawati
NPM : 180920210504
Menurut pendapat saya tulisan Spivak ini menarik untuk disimak karena ia membahas dari sisi kaum yang termarjinalkan. Tulisannya menggambarkan hubungan antara feminism, Marxism, Psychoanalysis dan deconstruction melalui pemikirannya sendiri. Dasar penulisannya diambil dari posisi perempuan dalam kacamata beberapa tokoh seperti Marx dan Freud.
Dalam poin yang Spivak tulis dari keempat bab yang ia buat ia memberikan sudut pandang pemikirannya mulai dari pemikiran marxisme dan freud. Ia juga melihat dari sisi psikoalalisis. Ia menuliskan bahwa percakapan yang dilakukan manusia mencakup 3 hal yang disebut sebagai konsep pergeseran yaitu language, world, dan consciousness. Marx dan Freud menyampaikan sisi tentang isu pekerja di Korea yang kerja lebih lama tetapi mendapatkan sedikit upah.
Spivak menjelaskan konsep tentang rahim wanita dimana rahim itu dianggap sebagai alat produksi dimana manusia menghasilkan keturunan. Namun kadangkala hasil produksi yang ia buat diambil haknya oleh pihak lain. Saya jadi teringat materi minggu lalu yang Bapak kemukakan dan jadi lebih memahami maksud perkuliahan di pertemuan sebelumnya.
Pada bagian ketiga ia membahas tentang the waterfall karya Derrida. Ia menampilkan pemikiran lain tentang sex, race dan class. Saya mendapatkan hal baru dari sudut pandang saya tentang perempuan yang terlibat dalam bagian dari jenis kelamin terlentu, kelas tertentu dan ras tertentu.
Pada bagian keempat Spivak menampilkan suatu kasus tentang perjuangan para perempuan dunia ketiga dalam masyarakat. Contohnya pekerja pabrik di Korea yang menuntut haknya. Namun mereka malah diperlakukan tidak baik oleh pemilik perusahaan. Istilah Third World Women diambil dari maraknya rasisme terhadap perempuan di US.
Spivak juga menuliskan bahwa salah satu faktor pemicu feminisme menurut Freud adalah penis-envy. Hal ini sangat menarik untuk dibahas dimana perempuan ini menganggap ada sesuatu yang kurang dari diri mereka sehingga mereka membandingkan apa yang tidak mereka miliki , yang dimiliki oleh laki-laki. Seolah -olah yang memiliki penis dianggap superior.
Hanya ada satu hal yang mengganjal menurut saya. Apakah mungkin jika feminisme dikaitkan dengan pendekatan agama. Karena menurut saya feminisme yang intinya menginginkan kesetaraan perempuan yang sering berbenturan dengan dogma agama yang biasanya mengingkan perempuan sebagai sosok yang patuh terhadap suami apabila sudah menjadi istri.