Skip to main content
You are not enrolled in any courses.

Course overview
List of all available courses

Makna Manusia

Makna Manusia
by 198307012010122004 Laila Qodariah -
Number of replies: 11

Apakah makna dari manusia itu ? Tinjaulah dari sudut pandang filsafat fenomenologi, eksistensialisme, dan kelimuan lainnya.

In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
by 190110180035 Azka Azkiya Isdiansyah -
1. makna manusia
a. Filsafat Fenomenologi: Menurut Morelau-Ponty, manusia merupakan kesatuan dari dimensi fisik dan non-fisik yang menciptakan makna dalam dunia. Subjek pengamat memiliki relasi dengan sesuatu di dunia sebagai pengaruhnya, dan pada gilirannya ia pun dapat memaknai dunia ini (Hasbiansyah, 2008).
b. Filsafat eksistensialisme: Manusia merupakan proses, bergerak aktid, dan dinamis. Manusia mampu keluar dari dirinya hingga melampaui keterbatasan biologis dan lingkungan fisiknya dan berusaha untuk tidak terkurung oleh segala keterbatasan yang dimilikinya (Abidin, 2011).
c. Filsafat ilmu sosiologi: Manusia merupakan individu yang tinggal bersama manusia lain dalam sebuah masyarakat. Dalam masyarakat, terdapat konsep berupa kultur yang merupakan simbol/aspek nilai yang dipelajari dari adanya interaksi sosial masyarakat tersebut. Nilai yang terbentuk tersebut merupakan nilai yang dipegang masyarakat untuk mengatur manusia dalam bertindak (Alexander, Thompson, dan Edles, 2016).
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Makna Manusia
by 190110180083 VANIA DIVA SALSABILA HAMZAH -
a) Eksistensialisme
Menurut eksistensialisme manusia adalah individu yang bebas untuk berpikir, melakukan, merasakan, dan hidup serta setiap individu (bukan masyarakat) bertanggung jawab untuk memberikan makna bagi kehidupannya sendiri. Pemikiran filsafat bermula dengan subjek manusia, bukan hanya subjek manusia yang berpikir, tetapi juga individu manusia yang melakukan, merasa, dan yang hidup. Setiap individu (bukan masyarakat atau agama) bertanggung jawab untuk memberikan makna bagi hidup dan kehidupan serta menghidupi makna tersebut secara jujur dan bergairah (secara "autentik") menurut Kierkegaard (Watts, 2003). Jean Paul Sartre mendefinisikan manusia sebagai individu yang bebas. Namun kebebasan yang dimilikinya selalu dibatasi dengan adanya kebebasan individu lain juga. Manusia bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara individual (Sunarso, 2010).

b) Fenomenologi
Menurut Edmund Husserl, manusia sejatinya bebas. Tidak ada yang dapat mempengaruhinya dari segala pandangan dan nilai dari orang lain. Hal ini mendorong manusia untuk berpikir kreatif dan progresif. Namun, kebebasan yang manusia miliki memiliki tanggung jawab yang besar, yang mana tanggung jawab itu berlandaskan pada diri sendiri, orang lain, dan seluruh dunia. Sehingga untuk mengejar citra diri terbaik manusia, manusia harus memilih perbuatan terbaik dari sudut pandang orang lain (Siswanto, 1997).

c) Materialime
Materialisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa atom adalah materi bergerak dan berkembang sebagai pembentukan awal dari alam semesta, akal dan kesadaran merupakan proses materi fisik (Hakim & Subaeni, 2008). Menurut Abidin (2006), Materialisme adalah paham filsafat yang meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik.

Hakikat manusia yang dikemukakan oleh Karl Marx, manusia ada ketika dia bekerja (homo laborans, homo faber). Manusia terbagi menjadi dua golongan yaitu, golongan buruh dan golongan borjuis. Marx memperjuangkan hak-hak dari golongan buruh agar setara dengan golongan borjuis. Karl Marx menyatakan bahwa manusia harus dipandang secara nyata atau konkret dalam hubungan dengan dunia sekitarnya sebagai makhluk yang bekerja. ( Louwrie, 1969).

d) Rasionalisme
Menurut paham rasionalisme, manusia memiliki sumber pengetahuan yaitu akal. Rene Descartes menyatakan manusia memperoleh pengetahuannya melalui akal budi. Menurut rasionalisme akal merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan akal tidak mungkin salah (Teng, 2016). Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu adalah kaidah-kaidah logis atau aturan-aturan logika (Arsi & Fail, n.d). Paham rasionalisme lebih menekankan pada penggunaan akal (rasio) untuk memperoleh sebuah pengetahuan (Fikri, 2018).

e) Idealisme
Menurut Plato dari sudut pandang idealismenya, hakikat manusia digambarkan bersifat spiritual atau kejiwaan. Manusia hidup di dalam dunia dengan bersandar pada suatu aturan moral yang jelas. Selain itu, manusia juga diberkahi dengan kemampuan untuk berpikir secara rasional sehingga mampu untuk menentukan pilihannya (Tatang, 2010). Kehidupan bermasyarakat merupakan suatu keharusan bagi manusia, karena manusia merupakan individu yang tidak dapat hidup sendirian (Aliyupiudin, 2014).

Berkenaan dengan hakikat manusia yang bersifat spiritual maka setiap manusia memiliki bakat kemampuannya masing-masing yang mengimplikasikan status atau kedudukan dan peranannya di dalam masyarakat/negara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hakikat manusia bukan badannya, melainkan jiwa/spiritnya, manusia adalah makhluk berpikir, mampu memilih atau bebas, dan hidup dengan suatu aturan moral yang jelas dan bertujuan (Tatang, 2010).


Daftar Pustaka
Aliyupiudin, Y. (2014, June 11). Hakekat manusia menurut plato. Retrieved from yufiali.weblog.esaunggul.ac.id/2014/06/11/hakekat-manusia-menurut-plato/.
Abidin, Z. (2006). Filsafat manusia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Arsi, A., & Fail, O. N. (n.d). Filsafat rasionalisme. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Dakwah Wal-Irsyad (DDI), Makasar.
Hakim, A. A., & Subaeni, B. A. (2008). Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), p.363.
Fikri, M. (2018). Rasionalisme Descartes dan implikasinya terhadap pemikiran pembaharuan Islam Muhammad Abduh. Jurnal Pendidikan Agama Islam Tarbawi, 3(2), 129-144.
Lowrie, W. (1969). Kierkegaard's attack upon "Christendom". Princeton, pp. 37–40.
Siswanto, D. (1997). Refleksi aktualitas fenomenologi Edmund Husserl dalam filsafat kontemporer. Jurnal Edisi Khusus Agustus ‘97. https://journal.ugm.ac.id/wisdom/article/download/31773/19242
Sunarso, S. (2010). Mengenal filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre serta implementasinya dalam pendidikan. Informasi. DOI: https://doi.org/10.21831/informasi.v1i1.5659.
Tatang (2010). Landasan Filosofis Pendidikan. Indonesia University of Education, Bandung.
Teng, H. M. B. A. (2016). Rasionalis dan rasionalisme dalam perspektif sejarah. Jurnal Ilmu Budaya.
Watts, M. (2003). Kierkegaard. Oneworld, pp. 4–6.

- Vania Diva Salsabila Hamzah
Perwakilan Kelompok 2
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Makna Manusia
by 190110180133 INEZA TIFANY PUTRI -
1. Fenomenologi
Teori-teori dalam fenomenologi berasumsi bahwa manusia secara aktif menginterpretasikan apa yang terjadi di sekitar mereka dan memahami dunia melalui pengalaman pribadinya tersebut (Littlejohn et al., 2017). Untuk memahami tentang makna, fenomenologi berfokus pada pengalaman seseorang. Menurut Morleau-Ponty, manusia adalah kesatuan dari dimensi fisik dan nonfisik yang menciptakan makna dalam dunia. Seseorang memiliki pengalaman dan relasi dalam dunia ini, sehingga ia dipengaruhi oleh dunia dan ia pun memaknai dunia itu (Hasbiansyah, 2008).

2. Eksistensialisme
Menurut Abidin (2011) istilah eksistensialisme berasal dari kata exsistere, yaitu ‘eks’ berarti keluar dan ‘sister’ berarti ada atau berada. Dengan demikian, eksistensi adalah sesuatu yang dapat keluar dari keberadaannya atau mampu melampaui dirinya sendiri. Karakter existere hanya dimiliki oleh manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk keluar dari dirinya dan melampaui segala keterbatasan yang mereka miliki baik secara biologis maupun lingkungan fisik. Oleh sebab itu, para eksistensialis menyebut manusia sebagai suatu proses, “menjadi”, gerak yang aktif dan dinamis.
Dalam sudut pandang eksistensialisme, manusia diteliti secara konkrit sebagaimana manusia itu sendiri menjadi pertanda dalam dunianya, bukan dari substansi di baliknya. Dengan demikian, menurut Abidin (2011), terdapat beberapa tema kehidupan yang selalu dialami dan mendasari perilaku manusia, antara lain kebebasan, kematian, kecemasan, kehidupan yang otentik, ketiadaan, dsb.

3. Materialisme
Menurut Abidin (2006), berdasarkan sudut pandang materialisme diyakini bahwa esensi dari kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau bersifat fisik. Ciri utama dari kenyataan material atau fisik yaitu menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan dan bersifat objektif. Alam spiritual atau jiwa, yang tidak mempunyai ruang, tidak bisa disebut dengan esensi kenyataan, dan oleh karena itu ditolak keberadaannya. Para materialis percaya bahwa tidak ada kekuatan apapun yang bersifat spiritual dibalik gejala atau peristiwa yang bersifat material. Seandainya ada peristiwa atau gejala yang masih belum diketahui, atau belum bisa dipecahkan oleh manusia, maka hal itu berarti ada kekuatan yang bersifat spiritual di belakang peristiwa tersebut, melainkan karena pengetahuan dan akal manusia yang belum memahaminya apa yang dimaksudkan tersebut.

4. Sosiologi
Dalam sosiologi, manusia dipandang sebagai makhluk sosial. Manusia membutuhkan manusia lain untuk dapat menjalani kehidupannya. Makna manusia sebagai makhluk sosial ialah adanya kesadaran manusia tentang status dan posisinya dalam kehidupan bersama serta kewajiban yang dimilikinya dalam hidup bersama-sama dengan orang lain (Ariyati, 2018).

Daftar Pustaka
Abidin, Z. (2006). Filsafat manusia. PT. Remaja Rosdakarya Bandung.
Aryati, A. (2018). Memahami Manusia Melalui Dimensi Filsafat (Upaya Memahami Eksistensi Manusia). El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis, 7(2), 79-94.
Hasbiansyah, O. (2008). Pendekatan fenomenologi: Pengantar praktik penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi. Mediator: Jurnal Komunikasi, 9(1), 163-180.
Littlejohn, S. W., Foss, K. A., & Oetzel, J. G. (2017). Theories of human communication. Weveland Press.
 
- Ineza Tifany Putri
Perwakilan Kelompok 6A
In reply to 190110180133 INEZA TIFANY PUTRI
Re: Makna Manusia
by 190110180133 INEZA TIFANY PUTRI -
Berikut anggota kelompok 6:
1. Angela Fergie A (190110180025)
2. Talitha Irhamna S (190110180027)
3. Rizky Putri A (190110180033)
4. Salsabila Yulianti (190110180043)
5. Ignasia Geralda Vania (190110180073)
6. Syarafina Zata Yumni (190110180099)
7. Ineza Tifany P (190110180133)
8. Naomi Marsha A M (190110180155
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Makna Manusia
by 190110180001 Janice Grace Lusiani Larasati Simanjuntak -
1. Filsafat Fenomenologi
Menurut Morelau-Ponty (dalam Hasbiansyah, 2008) manusia adalah kesatuan dari dimensi fisik dan nonfisik yang menciptakan makna dalam dunia. Seseorang sebagai subjek pengamat, memiliki relasi dengan sesuatu di dunia ini. Ia dipengaruhi oleh dunia dan pada gilirannya ia pun memaknai dunia itu.
2. Filsafat Eksistensialisme
Manusia merupakan proses, bergerak aktif, dan dinamis. Manusia mampu keluar dari dirinya hingga melampaui keterbatasan biologis dan lingkungan fisiknya, serta berusaha untuk tidak terkurung oleh segala keterbatasan yang dimilikinya (Abidin, 2011).
3. Filsafat Moral
Berdasarkan aktivitas Thales, manusia pada kodratnya adalah makhluk berpikir. Manusia memiliki desakan untuk mengenal, mencari tahu, mengejar pengetahuan mengenai keberadaan dan kehadirannya sebagai manusia, dimana mengenal dalam hal ini adalah mendalami dirinya bukan hanya asal mengenal (Dewantara, 2017).
4. Filsafat Ilmu Sosiologi
Manusia merupakan individu yang tinggal bersama manusia lain dalam sebuah masyarakat. Dalam masyarakat, terdapat konsep berupa kultur yang merupakan simbol/aspek nilai yang dipelajari dari adanya interaksi sosial masyarakat tersebut. Nilai yang terbentuk tersebut merupakan nilai yang dipegang masyarakat untuk mengatur manusia dalam bertindak (Alexander, Thompson, dan Edles, 2016).

Kelompok 4A
1. Janice Grace LLS (180001)
2. Ananda Rainy Akram (180053)
3. Afiya Nur Nabila (180045)
4. Viory Sjahrani (180115)
5. Nabila Mufida LD (180149)
6. Maria Carolin (190011)
7. Rachma Syifa (190017)
8. Timothea Indirakristi Aditaputri (190065)
9. Putri Adinda Novianti (190121)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Makna Manusia
by MAULIDYA MAULIDYA KUMARANINGTYAS -
Fenomenologi
Menurut Edmund Husserl, manusia adalah makhluk yang berkesadaran, dan berkat aktivitas-aktivitas kesadarannya manusia mampu mengatasi dirinya dan menciptakan dunia yang khas bagi dirinya (Abidin, 2011). Manusia yang satu berbeda dengan manusia yang lain. Setiap “Aku” akan membentuk persepsi, ingatan, fantasi, dan ekspektasi yang berbeda dengan “Aku” yang lain (Kamayanti, 2016).

Eksistensialisme
Eksistensi berarti "sesuatu yang keluar dari keberadaannya" atau "sesuatu yang mampu melampaui dirinya sendiri". Menurut pandangan ini, hanya manusia yang mempunyai karakter "eksistensi" ini. Artinya hanya manusia yang sanggup keluar dari dirinya, melampaui keterbatasan biologis dan lingkungan fisiknya, berusaha untuk tidak terkungkung oleh segala keterbatasan yang dimiliki dirinya. Manusia menurut pandangan ini disebut sebagai suatu proses, "menjadi", gerak aktif dan dinamis. (Abidin, 2014)

Materialisme
Manusia adalah bagian dari alam atau materi. Sebagai bagian dari alam, manusia merupakan objek yang substansinya adalah berkekuasaan. Manusia adalah mesin atau kumpulan sel dan sistem saraf, dan daging (tubuh) tanpa jiwa yang menempati ruang dan waktu. (Abidin, 2011)

Idealisme
Menurut aliran idealisme, hakikat manusia adalah bersifat spiritual atau non-fisik. Para idealis percaya bahwa terdapat kekuatan atau kenyataan spiritual di belakang setiap penampakan atau kejadian. Jika perilaku manusia diarahkan pada nilai-nilai atau norma-norma, maka hidup manusia adalah bertujuan (teleologis) untuk menggapai dan mengaktualisasikan nilai, norma, atau hukum. Perilaku manusia mengandung maksud dan tujuan, bukan semata-mata bergerak secara mekanis. Sumber atau penggerak utama manusia adalah kekuatan internal, yaitu jiwa. (Abidin, 2011)

Sosiologi
Menurut Auguste Comte “konsep manusia dalam ilmu sosiologi belum sepenuhnya melihat manusia sebagai makhluk yang utuh dan mandiri”. Comte berpendapat bahwa masyarakatlah yang menentukan individu. Baginya manusia itu ada untuk masyarakat dan masyarakatlah yang menentukan segala-galanya.

- Kelompok 5A -
1. Tia Fitriani (190110180021)
2. Afriliani Dwi Hartati (190110180023)
3. Irvia Rizky Valencianes (190110180065)
4. Tafia Afina Putri (190110180069)
5. Angela Anastasya Lasut (190110180071)
6. Maulidya Kumaraningtyas (190110180087)
7. Grace Kezia Oktavian (190110180093)
8. R Satrio Wibowo (190110180121)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Makna Manusia
by 190110180019 Winni Naurahma Astri -
a. Fenomenologi: Manusia merupakan subjek konkret dan dinamis, subjek yang bisa merasakan sesuatu dan mempunyai pengalaman (Abidin, 2014). Menurut Husserl manusia pada prinsipnya adalah makhluk yang berkesadaran, dan berkat aktivitas-aktivitas kesadaran, manusia mampu mengatasi dirinya dan menciptakan dunianya yang khas bagi dirinya (Abidin, 2014). Fenomenologi berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala, termasuk di dalamnya konsep diri atau pandangan hidup mereka sendiri (Creswell, 1998). Fenomenologi mengungkapkan bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang rasional pada tingkat yang dalam, kerangka pengalaman pribadi yang dimiliki manusia disusun menurut norma-norma nalar dan norma-norma itu merupakan kewajiban internal pada orang tersebut untuk memperjuangkan pemenuhan hidup yang rasional (Hanh, 2009).

b. Eksistensialisme: Eksistensialisme berpendapat bahwa hanya manusia yang memiliki karakter existere. Manusia mampu untuk keluar dari dirinya, ia berusaha untuk tidak terkungkung dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, melampaui keterbatasan biologis dan lingkungan fisiknya. Sehingga, eksistensialis melihat manusia sebagai suatu proses, “menjadi”, gerak yang aktif dan dinamis (Abidin, 2014). Aliran eksistensialisme berusaha menemukan kebebasan dengan menunjukkan suatu fakta, bahwa objek tidak mempunyai makna tanpa keterlibatan pengalaman manusia. Sehingga, manusia merupakan suatu titik sentrum dari segala relasi, sebagai subjek dengan pengalamannya, dimana dengan kesadaran akan ‘keberadaannya’, eksistensi manusia diakui. Menurut Sartre, manusia berada melalui melalui dua cara yaitu l’etre-en-soi (berada pada dirinya ) dan l’etrepour-soi (berada untuk dirinya) (Sartre, 1956). Eksistensi manusia selalu memiliki kebebasan sejauh tindakannya mendatangkan manfaat bagi eksistensi hidupnya, oleh karena itu manusia harus selalu siap bereksistensi dan mengisi nilai sendiri bagi eksistensi hidupnya (Bertens, 1987)

c. Dualisme: Paham dualisme melihat manusia sebagai makhluk yang terdiri dari dua substansi, yaitu materi (tubuh) dan roh (jiwa) (Abidin, 2014). Materi atau tubuh merupakan suatu substansi yang mana ciri atau karakteristiknya adalah berkeluasan (​res extensa​), menempati ruang dan waktu, sehingga bisa dihitung, diukur, dan di kuantifikasi. Sedangkan, roh atau jiwa merupakan suatu substansi yang mana ciri atau karakteristiknya adalah berpikir (​res cogitans​), tidak menempati ruang dan waktu, sehingga tidak bisa diukur, dihitung, dan di kuantifikasi. Keduanya tidak bergantung satu sama lain, akan tetapi berintegrasi membentuk yang disebut manusia. Antara badan dan ruh terjalin hubungan yang bersifat kausal, sebab akibat, artinya antara keduanya saling mempengaruhi satu sama lain (Abidin, 2014).

d. Strukturalisme : Aliran strukturalisme menempatkan struktur/sistem bahasa, budaya sebagai kekuatan-kekuatan yang menentukan perilaku bahkan kesadaran manusia, manusia tidak bebas yang berstruktur oleh sistem bahasa dan budayanya (Hawari, 2017). Strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun tujuan manusia. Bagi Freud, strukturnya adalah psyche; bagi Marx, strukturnya adalah ekonomi; dan bagi Saussure, strukturnya adalah bahasa. Kesemuanya mendahului subjek manusia individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan manusia pada semua keadaan (Wilardjo, 2009).

e. Materialisme : Esensi manusia bersifat material/fisik yang menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan dan bersifat objektif sehingga dapat diukur, dihitung, diobservasi. Menurut aliran materialisme manusia dianggap sebagai bagian dari alam atau materi. Manusia adalah objek yang substansinya adalah berkeluasaan. Manusia adalah mesin atau kumpulan sel dan sistem saraf. Manusia adalah daging (tubuh) tanpa jiwa yang menempati ruang dan waktu. Sebagai tubuh (daging) manusia mengalami perkembangan dan penyusutan, sejalan dengan perjalanan waktu. Oleh karena itu manusia dianggap sebagai makhluk deterministik yang tidak memiliki kebebasan. Manusia berperilaku karena terdapat suatu sebab yang mendahuluinya (stimulus) yang menuntut untuk diberikan respon atau reaksi (Abidin, 2014). .

f. Anthropology : Dalam melakukan kajian terhadap manusia, antropologi mengedepankan dua konsep penting yaitu: Holistik dan Komparatif. Aliran antropologi sangat memperhatikan aspek sejarah dan penjelasan menyeluruh untuk menggambarkan manusia melalui pengetahuan ilmu sosial ilmu hayati (alam), dan juga humaniora. Antropologi bertujuan untuk lebih memahami dan mengapresiasi manusia sebagai entitas biologis homo sapiens dan makhluk sosial dalam kerangka kerja yang interdisipliner dan komprehensif (Birx, 2011).

Daftar Pustaka
Abidin, Z. (2014). Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Bandung.
Bertens, K. (1987). Fenomenologi Eksistensial. Jakarta: Gramedia.
Birx, J. (2011). 21st Century Anthropology: A Reference Handbook. Ed: James. H. Birx. London: Sagepub.
Hahn, C. (2009). The Concept of Personhood in the Phenomenology of Edmund Husserl. In Dissertations. Retrieved from https://epublications.marquette.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1192&context=dissertations_mu
Hawari, F. (2017). Implementasi Prinsip-Prinsip Strukturalisme untuk Mengidentifikasi Kondisi Aktual Dry Leaf Board sebagai Material Perancangan Interior. Jurnal Design Interior Vol. 2, No. 1: Surabaya
Sartre, J. (1956). Being and Nothingness. New York: The Philosophical.
Wilardjo, S. (2009). ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT ILMU BERKAIT DENGAN EKONOMI. Jurnal Animus: Semarang

Kelompok 7 Kelas A
Asha Kamila (190110180011)
Winni Naurahma (190110180019)
Hamidah Rabbani (190110180049)
Syaffa Salsabila (190110180059)
Sulthan Akbar Bilad (190110180067)
Hafiyyan Izdihar Iman (190110180091)
Zakaria Anshari (190110180143)
Safira Audia (190110180147)
Rafid Khair (190110190045)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Makna Manusia
by TRIE Trie Septia Nurhaliza -
a. Menurut eksistensialisme, kebebasan adalah esensi manusia. Manusia merupakan makhluk yang bebas untuk menentukan, mengatur, memilih, dan memberi makna pada realitas. Menurut Heidegger, untuk mencapai keutuhan, manusia harus memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Manusia sebagai makhluk yang sadar akan keberadaannya harus selalu siap bereksistensi dan mengisi nilai dalam kehidupannya (Yunus, 2011).

b. Menurut Levinas, seorang filsuf fenomenologi bahwa kehadiran orang lain memberi pengaruh kepada ‘aku’ yang mengamatinya. Oleh karena itu, memahami bagaimana kehadiran ‘orang lain’ berpengaruh kepada keberadaaan ‘aku’, bukan bagaimana ‘aku’ mempengaruhi keberadaan ‘orang lain’, dan karena hal tersebut kehadiran ‘orang lain’ di hadapan ‘aku’ memunculkan tanggung jawab ‘aku’ atas diri orang lain (Pono, 2018).

c. Menurut fenomenologi eksistensial, salah satu tipe fenomenologi, membahas mengenai eksistensi manusia yang konkrit, meliputi pengalaman manusia akan pilihan atau tindakan yang bebas dalam situasi-situasi konkrit (Mu’ammar, 2017).

d. Berdasarkan fungsionalisme, kita memiliki perasaan bahwa ada cara hidup tertentu yang merupakan cara hidup yang diinginkan dan bahwa seseorang harus hidup dengan salah satu cara itu (Harman, 2016).

e. Menurut pandangan vitalisme, kehidupan dijelaskan sebagai finalistis, yaitu tujuan akhirlah yang menggerakan kehidupan. Menurut Nietzsche, dunia adalah tempat manusia mengerahkan semua kekuasaannya. Bagi Nietzsche, manusia harus memiliki keinginan untuk menjadi manusia hebat, unggul, dan manusia harus berani dalam hidupnya (Putri, 2021).

Daftar Pustaka:
Harman, GIlbert. (2016). Human Flourishing, Ethics, and Liberty.
Mu’ammar, M. (2017). Analisis Fenomenologi Terhadap Makna dan Realita. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, 13(1), 120-135. doi:https://doi.org/10.23971/jsam.v13i1.573
Pono, M. (2018). Memahami Makna Relasi Dan Keberadaan Manusia Dalam Film “HER” Berdasarkan Perspektif Filsafat Fenomenologi Emmanuel Levinas. KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi, 4(1), 39-56. doi:https://doi.org/10.37196/kenosis.v4i1.50
Yunus, Firdaus M. "Kebebasan dalam Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre." Al-Ulum: Jurnal Studi Islam, vol. 11, no. 2, 2011, pp. 267-282.

Kelompok 3A:
Trie Septia N. (190110180037)
Adilla Aulia A. (190110180051)
Lindia Lastri Muthiah (190110180105)
Cantika Athallarahmi (190110180107)
Aninda Nurbaeti Rahman (190110180111)
Adinda Nadine N.A. (190110180113)
M. Habibi Putra W. (190110180117)
Sherafina Natasya (190110190053)
Steffi Madeleine (190110190057)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Makna Manusia
by RAFIKA RAFIKA HALIDANIAR -
1. Eksistensialisme
Manusia adalah subjek, yang menyadari, yang sadar akan keberadaan dirinya. Manusia sadar akan keberadaannya di dunia, berada di dunia, dan mengalami keberadaannya di dunia. Manusia menghadapi dunia, mengerti akan apa yang dihadapinya, dan mengerti akan arti hidupnya (Shofa, 2012).

2. Fenomenologi
Manusia memiliki kesadaran murni terhadap apa yang dialaminya. Pengetahuan yang kita ketahui sekarang ini merupakan pengetahuan yang kita ketahui sebelumnya melalui hal-hal yang pernah kita lihat, rasa, dengar oleh alat indera kita. (Mufida dkk, 2012).

3. Idealisme
Manusia memangkalkannya pada yang umum, yang tidak berubah-ubah, abadi, yang masih terus ada sesudah hidup ini habis. Dalam pandangan ini semuanya membedakan manusia dari binatang, bukanlah manusia itu material belaka, tetapi adalah bahagiannya yang lain, yang bukan material dan bersifat lain dari yang material itu. (Prasetyo, 2013).

4. Materialisme
Manusia adalah terdiri dari materi belaka. Lamettrie (1709-1751) sebagai seorang pelopor materialisme berpandangan bahwa manusia tidak lain daripada binatang, binatang tak berjiwa, material belaka. (Prasetyo, 2013).

5. Rasionalisme
Manusia itu terdiri dari jasmaninya dengan keluasanya (extensio) serta budi dengan kesadaran nya. Kesadaran ini rohani dan yang bertindak itu adalah budi. Hubungan antara jiwa dana badan adalah sejajar, tapi bukanlah merupakan sebuah kesatuan. Dari renungan rasionalisme ini muncul paham panteisme, yitu spinoza. (Prasetyo, 2013).

6. Psikomatik
Manusia hanya terdiri atas jasad yang memiliki kebutuhan untuk menjaga keberlangsungannya artinya manusia memerlukan kebutuhan primer (sandang, pangan dan papan) untuk keberlangsungan hidupnya. Manusia juga terdiri dari ruh yang memerlukan nilai spiritual yang diatur oleh nilai keagamaan (pahala). Untuk menjadi manusia sempurna haruslah memiliki unsur-unsur sebagai berikut (Pratiwi, 2015):
a. Rasionalitas
b. Kesadaran
c. Akal budi
d. Spiritualitas
e, Moralitas
f, Sosialita
g. Keselarasan dengan alam

Rafika Halidaniar perwakilan dari kelompok 8A:
Hamni Aisyah Amini (190110180031)
Erika Chaidar (190110180055)
Mikaila Reggiana Sulaeman (190110180085)
Cut Shabirah Miadarma (190110180109)
Farhan Hidayat (190110180123)
Azzahra Nurfatihah Elnithania Poeloengan (1901110180125)
Kirana Michellia Priyanka (190110180139)
Rafika Halidaniar (190110180151)
Viola Sahda Rembulan (190110180153)
In reply to 198307012010122004 Laila Qodariah
Re: Makna Manusia
by 190110180127 MUHAMMAD YUSUF DZAUDAN AGUS -
Eksistensialisme, Filsafat eksistensi Soren Aabye Kierkegaard (1883-1855) → Manusia yang bebas dapat mengatur, memilih dan dapat memberi makna pada realitas. Tahap Estetis (Orientasi hidup manusia sepenuhnya diarahkan untuk mendapatkan kesenangan), Etis (Individu mulai menerima kebajikan-kebajikan moral dan memilih untuk mengikatkan diri kepadanya), dan Religius (Tidak dibutuhkan alasan atau pertimbangan rasional dan ilmiah di sini, Yang diperlukan hanyalah keyakinan subyektif yang berdasarkan pada iman).

Fenomenologi → Manusia adalah sebuah fenomena baik secara individual maupun kolektif.Fenomenology melihat manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran akan mengalami fenomena sebagai pengalaman yang dialami sebagai suatu pengalaman subjektif

Filsafat Manusia (Secara Umum) → Manusia hadir sebagai makhluk yang multi dimensi. Dalam hal ini manusia sebagai makhluk individu benar-benar berdiri kokoh dalam kemandiriannya. Demikian pula manusia sebagai makhluk sosial senantiasa mengatur dengan kehidupan kehidupan masyarakat yang beraneka ragam.

Idealisme → Aliran ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada di dunia ini adalah ruh, juga makna manusia adalah ruh.

Materialisme → aliran serba zat ini mengatakan yang sungguh-sungguh ada itu adalah zat atau materi, alam ini adalah zat atau materi dan manusia adalah unsur dari alam, maka dari itu manusia adalah zat atau materi.

Antropologi → tiga sudut pandang makna manusia, yaitu manusia sebagai Makhluk individu (Manusia sebagai individu memiliki hak asasi sebagai kodrat alami atau sebagai anugerah Tuhan kepadanya. Hak asasi manusia sebagai pribadi itu terutama hak hidup, hak kemerdekaan dan hak milik), Makhluk sosial (Adanya kesadaran interdependensi dan saling membutuhkan serta dorongan-dorongan untuk mengabdi sesamanya adalah asas sosialitas itu), dan Makhluk susila (Bersumber pada kepercayaan bahwa budi nurani manusia secara apriori adalah sadar nilai dan pengabdi norma-norma. Kesadaran susila atau sense of morality tak dapat dipisahkan dengan realitas sosial, sebab, justru adanya nilai-nilai, efektivitas nilai-nilai, berfungsinya nilai-nilai hanyalah di dalam kehidupan sosial).

Muhammad Yusuf Dzaudan Agus Perwakilan Kelompok 9A:

Nurmeila Salsabila 190110180009
Miqdam Tsabit Alkayyis 190110180017
Nd Nisa Cantika Dinata 190110180077
Muhammad Yusuf Dzaudan Agus 190110180127
Altof Fadilah Abdurrahman Iskandar 190110180129
Maulana Ahmad Ghiffari 190110180135
Aryo Bimo Adiie 190110180079
Maida Beryl S 190110180061
Ariyanti Sri N 190110180041